Lion Air Flight 610 Investigation - Bahasa Indonesia

Kreindler Mengikuti Jatuhnya Lion Air Penerbangan 610 ke Laut Jawa – 189 Orang Hilang

Lion-Air-Boeing-737-BMax

Berita Terbaru: Upaya Investigasi Awal berfokus pada instrumen pesawat yang rusak, yaitu sensor "Angle of Attack" (AOA) atau Sudut Serang. Bacaan yang tidak akurat dari sensor tersebut kemungkinan memicu fitur anti-stall pesawat yang baru, Sistem Augmentasi Karakteristik Manuver, yang juga disebut sebagai MCAS. Produsen pesawat Boeing dicurigai memberikan instruksi yang tidak memadai kepada pilot 737 Max 8 mengenai fitur MCAS baru pesawat tersebut dan cara mengoperasikannya – khususnya di situasi darurat.

Lion Air Penerbangan 610 jatuh 13 menit setelah lepas landas dari Jakarta, Indonesia pada hari Senin, 29 Oktober 2018. 189 orang yang ada di dalam pesawat maskapai penerbangan Indonesia itu semuanya diduga meninggal dunia. Pesawat tersebut adalah Boeing 737 MAX 8 baru, dan diserahkan pada Lion Air kurang dari 3 bulan sebelum kecelakaan itu terjadi. Boeing 737 MAX 8 tersebut menggunakan mesin hemat bahan bakar CFM LEAP-1B. Penerbangan pertama model pesawat ini dilakukan pada 29 Januari 2016. Cuaca waktu itu cerah dengan sedikit angin. Destinasi yang dituju adalah 8 jam jauhnya, yaitu Pulau Bangka di dekat Sumatera, namun pilot mulai mengalami masalah hampir segera setelah lepas landas. Meskipun para pilotnya tidak mengumumkan keadaan darurat, mereka menghubungi kontrol lalu lintas udara melalui radio 5 menit setelah lepas landas untuk melaporkan bahwa penerbangan itu harus kembali ke Bandara Internasional Soekarno-Hatta. 8 menit kemudian, pesawat menghilang dari jangkauan radar kontrol lalu lintas udara. Para pekerja di anjungan lepas pantai di Laut Jawa menyaksikan pesawat tersebut melesat ke air dengan hidung pesawat menghadap ke bawah dengan sudut tajam.

Masalah-masalah pada Penerbangan 610 yang Diketahui

Data radar menunjukkan bahwa Boeing 737 menunjukkan pergerakan aneh dalam waktu singkat penerbangan itu. Sekitar semenit sejak lepas landas, ketinggiannya turun sekitar 726 kaki dalam waktu 21 detik. Data menunjukkan bahwa hal ini benar, dan pesawat mulai naik, namun kemudian di waktu 2-3 menit, pesawat mulai mendatar. Sekitar 10-11 menit penerbangan, pesawat itu tiba-tiba menurun secara tajam dan menghilang dari radar.

Profil penerbangan pesawat tersebut tidak konsisten dengan penerbangan yang dikendalikan secara auto-pilot. Data radar menunjukkan bawa para pilot mengalami kesulitan mengendalikan kecepatan udara, tingkat kenaikan dan ketinggian pesawat. Pengakuan Lion Air bahwa pesawat itu mengalami isu-isu teknis yang tidak dijelaskan pada penerbangan sebelumnya, serta tukikan tiba-tiba pesawat itu 12 menit setelah lepas landas di penerbangan yang bernasib naas itu, menimbulkan berbagai pertanyaan akan adanya kesalahan-kesalahan khusus pada model yang baru dirilis itu. Perekam suara kokpit dan perekam data penerbangan digital akan memberikan informasi kunci tentang penyebab jatuhnya pesawat. Laporan awal dari penyelidik keamanan Indonesia mengindikasikan bahwa keempat penerbangan sebelumnya dari pesawat yang jatuh itu mengalami masalah dengan kecepatan udara pesawat, dan hal ini bisa melibatkan sistem statis-pitot. Eror pada sistem statis-pitot bisa sangat berbahaya dan bisa mengakibatkan pilot menerima informasi ketinggian dan kecepatan udara yang tidak bisa diandalkan (di antara berbagai informasi lainnya) dan berujung pada malapetaka.

Isu Penting pada Penerbangan Sebelumnya – Lion Air Penerbangan JT43

Pada penerbangan tepat sebelumnya (Lion Air Penerbangan JT43), pesawat itu mengalami isu teknis ketika terbang dari Pulau Bali, Indonesia ke Jakarta. Pihak otoritas bandara Bali melaporkan pada media bahwa pesawat itu mengalami masalah "kecepatan dan altimeter". Tak lama setelah lepas landas, para pilot Lion Air dilaporkan melakukan panggilan PAN-PAN untuk memberitahu kontrol lalu lintas udara tentang situasi mendesak. Panggilan siaga PAN-PAN-PAN adalah satu langkah di bawah panggilan Mayday yang mengindikasikan bahaya yang tak terhindarkan. Pada akhirnya, pilot Lion Air Penerbangan JT 43 memutuskan untuk melanjutkan penerbangan ke Jakarta dan tidak kembali ke pangkalan (RTB / Return to Base) setelah melaporkan bahwa masalahnya telah terselesaikan di tengah penerbangan.

Keluhan penumpang dari penerbangan sebelumnya – Lion Air JT43

Para penumpang pada Penerbangan JT43 memasang postingan sosial media di Instagram yang berisi kekhawatiran mereka tentang penerbangan itu. Seorang penumpang Penerbangan JT43 mengatakan pada TVOne bahwa pesawat itu beberapa kali turun secara tiba-tiba hanya dalam beberapa menit setelah lepas landas. Wakil ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Haryo Satmiko berbicara dengan para reporter mengenai isu-isu teknis pada penerbangan JT43. Data dari Radar Penerbangan 24 menunjukkan variasi tak biasa dalam bacaan kecepatan udara dan ketinggian, serta adanya penurunan 875 kaki dalam rentang waktu 27 detik sebelum kembali stabil dan melanjutkan perjalanan ke Jakarta. Pola serupa juga terlihat pada data dari penerbangan fatal Senin itu. Para ahli keamanan memperingatkan bahwa data harus diperiksa dan dibandingkan dengan informasi yang didapat dari kotak-kotak hitam Penerbangan 610.

Investigasi Kecelakaan

Salah satu perekam data penerbangan Boeing 737 MAX 8 ditemukan 3 hari setelah pesawat itu jatuh ke dasar Laut Jawa. Perekam suara penerbangan itu masih belum ditemukan dari Laut Jawa.

8 hari setelah kecelakaan, pada tanggal 6 November 2018, Boeing mengeluarkan Buletin Manual Operasi (OMB) yang mengarahkan operator kepada prosedur kru penerbangan yang sudah ada untuk mengatasi keadaan jika terjadi input yang salah dari sensor. Laporan investigasi awal mencurigai kemungkinan para pilot Lion Air menerima informasi kecepatan dan ketinggian penerbangan yang salah dari sensor AOA yang rusak sebagai bagian dari sistem statis-pitot.

Sensor AOA

Sensor Angle of Attack (AOA) atau Sudut Serang mirip dengan baling-baling angin dan terletak di bagian luar pesawat Boeing 737 MAX 8. Sensor-sensor AOA ini berguna untuk mengirimkan data tentang kemiringan hidung pesawat dan bisa membantu memprediksi kemungkinan pesawat stall dan menukik. Sensor ini dirancang untuk memicu sistem augmentasi karakteristik manuver (MCAS). Sehari sebelum jatuhnya Lion Air, pesawat itu mengalami masalah dengan AOAnya dan dilaporkan bahwa sensornya telah diganti. Para penyelidik mempertimbangkan kemungkinan sensor AOA Lion Air mengirimkan informasi yang salah, yang mungkin memicu MCAS dan memaksa hidung pesawat turun.

Sistem MCAS

Pesawat Boeing 737 Max 8 memasukkan fitur anti-stall baru, yaitu Sistem Augmentasi Karakteristik Manuver atau Maneuvering Characteristics Augmentation System (MCAS). Laporan penyelidikan awal mengindikasikan bahwa para pilot Lion Air 610 mungkin tidak tahu atau tidak berlatih dengan fitur baru ini, terutama cara menangani MCAS dalam situasi darurat.

Juru bicara dari Asosiasi Gabungan Pilot Amerika atau Allied Pilots Association (APA) mengatakan pada para jurnalis bahwa meskipun ia adalah pilot Boeing 737 Max 8 berpengalaman, ia tak pernah berlatih dengan fitur MCAS baru ini dan sama sekali tidak tahu akan fitur ini sebelum adanya buletin Boeing 6 November setelah kecelakaan itu terjadi.

Menurut Menteri Transportasi, Budi Karya Sumadi, Direktorat-Jendral Transportasi Udara meminta Lion Air untuk membebas-tugaskan empat petugas (Direktur Teknik, Manajer Kontrol Kualitas, Manajer Pemeliharaan Penerbangan, dan Manajer Release) untuk mempermudah investigasi. Lisensi para teknisi pemeliharaan pesawat tersebut akan dibekukan selama proses investigasi. Menteri Transportasi Sumadi mengatakan bahwa semua pesawat Boeing MAX 8 yang dioperasikan oleh Lion Air dan Garuda sedang menjalani proses inspeksi dan sejauh ini tidak ditemukan masalah. Baik Boeing maupun Dewan Keamanan Transportasi Nasional A.S. (NTSB) turut membantu investasi kecelakaan ini.

Tentang Lion Air

Lion Air yang dimiliki oleh Grup Lion Air dirintis di tahun 1999 dan dikategorikan sebagai maskapai murah. Mereka memiliki lebih dari 110 pesawat dan adalah maskapai terbesar di Indonesia. Maskapai ini dilarang beroperasi di wilayah udara Uni Eropa dan Amerika Serikat dari tahun 2007-2016. Dua hari setelah kecelakaan Penerbangan 610, Lion Air, bertindak atas "instruksi dan keputusan Menteri Transportasi (Indonesia)", memecat direktur tekniknya. Situs berita Indonesia tirto.id melaporkan bahwa Managing Director Daniel Putut mengatakan bahwa maskapai itu memiliki "banyak pertanyaan" untuk Boeing yang berbasis di Chicago dan mereka akan membicarakan kembali tentang pengiriman model-model 727-MAX yang masih sedang dipesan.

Insiden-insiden Lion Air Sebelumnya

Kecelakaan-kecelakaan Lion Air signifikan lainnya termasuk:

Januari 2002: Lion Air Penerbangan 386 jatuh setelah mencoba lepas landas. Semua orang selamat, namun seluruh pesawatnya tidak bisa digunakan lagi.

·November 2004: Lion Air Penerbangan 538 tergelincir di Surakarta, menewaskan 25 orang.

Maret 2006: Lion Air Penerbangan 8987 tergelincir setelah mendarat dan keluar dari landasan. Tidak ada korban jiwa namun pesawatnya tidak digunakan lagi.

April 2013: Lion Air Penerbangan 907 melampaui jalur pendaratan dan jatuh ke air di dekat Denpasar. Semua penumpang dan kru dievakuasi.

Daftar Hitam Industri Aviasi Indonesia

Akibat riwayat keamanan yang tak menentu, industri aviasi Indonesia baru saja dihapuskan dari daftar hitam A.S. dan Eropa. Penerbangan JT610 adalah kecelakaan udara kedua paling mematikan di negara ini dalam dua dekade dan kembali memunculkan kekhawatiran akan keamanan penerbangan Indonesia. Kecelakaan aviasi terburuk negara ini terjadi di tahun 1997 ketika Airbus A-300B4 Garuda jatuh di dekat bandara di Sumatera Utara dan menewaskan seluruh 234 orang di dalamnya. Kecelakaan AirAsia di tahun 2014 menewaskan seluruh 162 orang pada penerbangan itu ketika pesawat meluncur ke Laut Jawa. Menurut Jaringan Keamanan Aviasi, Indonesia telah mengalami 40 kecelakaan udara fatal dalam 15 tahun terakhir.

Tentang Perusahaan Hukum Kreindler & Kreindler

Didirikan di tahun 1950, Kreindler adalah perusahaan hukum kecelakaan aviasi terbaik di dunia. Para pengacara kami telah menjadi penasihat utama dalam hampir setiap kasus kecelakaan pesawat besar, dan juga berbagai kasus aviasi pribadi, carteran, militer, umum dan helikopter.

Kreindler mendapatkan kompensasi terbesar dari satu kecelakaan dalam sejarah aviasi – hampir 3 milyar dolar – melawan Libya dan Pan Am dalam gugatan yang muncul akibat pengeboman Penerbangan 103 di atas Lockerbie, Skotlandia. Perusahaan hukum kami terus memimpin dalam upaya hukum untuk menuntut semua pihak yang bertanggung jawab atas insiden terorisme 9/11.

Baik kecelakaan massal yang melibatkan ratusan korban ataupun kecelakaan aviasi individual yang melibatkan satu korban, Kreindler melakukan perlawanan yang sama demi keadilan, persiapan yang cermat, dan komitmen kepada setiap kasus yang diterima.

Kreindler & Kreindler LLP memiliki kantor-kantor hukum di kota New York, Boston dan Los Angeles.

English Version